Aku berhenti menyebut namamu—
bukan karena ingatan menjadi abu,
melainkan karena lidahku kehabisan
cara mengucapkan darah.
Di antara kita,
waktu menjahit langit dengan benang rapuh;
malam datang membawa gunting,
dan sejak itu bulan
hanya menyisakan cahaya
yang kehilangan alamat.
Aku menyimpanmu
di palung yang bahkan kenangan enggan selami—
tempat kemungkinan yang tak sempat lahir
membatu menjadi fosil,
namun diam-diam
menggerogoti tulang kesunyian.
Jangan kusebut ini rindu.
Rindu terlalu indah
untuk luka semacam ini.
Ini musim yang membusuk
di bawah kulit;
tak tampak oleh mata,
namun setiap denyut
membunyikan lonceng
bagi sesuatu yang telah mati.
Jangan kembali.
Bukan karena pintu telah tertutup,
melainkan rumah ini
sudah kehilangan alasan
untuk memiliki pintu.
Jika takdir menyeretmu kembali,
jangan sebut itu pulang.
Barangkali kita hanya dua reruntuhan
yang kebetulan mengenali
debu masing-masing.
Dan jika kau menemukan taman
di tangan seseorang yang lain,
biarkan bunganya tumbuh
tanpa bayanganku.
Sebab kehilangan paling kejam
bukan ketika seseorang pergi,
melainkan ketika ia tetap hidup
di balik jarak,
sementara di dalam diri kita
ia mati berulang kali—
tanpa liang,
tanpa nisan,
dan setiap pagi
kematiannya dimulai lagi.
Topan Arif
Malang, 4 September 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar