Aku mencintaimu seperti lelaki
yang sedang mengasah pisau pada tulang sendiri—
rakus, bengis,
dan terlalu bodoh untuk berhenti.
Kita saling merobek malam,
menelanjangi segala yang tersisa,
lalu menyebut luka itu
sebagai cinta.
Tubuhmu pernah menjadi candu.
Aku menegukmu sampai mabuk,
sampai nalar membusuk
dan harga diri tinggal serpihan
di bawah ranjang.
Kupikir jika dua manusia
sudah sehancur itu di dalam pelukan,
mereka akan bertahan.
Ternyata tidak.
Kau pergi
dan meninggalkan aku
bersama kamar yang dingin,
bau kenangan,
dan jantung yang terasa
seperti bangkai yang belum sempat dikubur.
Sekarang aku mengerti:
yang paling brutal dari senggama
bukan tubuh yang saling membakar,
melainkan pagi setelahnya—
ketika perempuan yang semalam
kau dekap seperti milikmu
bangun, berpakaian,
lalu pergi
seolah kau tak pernah ada.
Kita pernah menjadi satu.
Kini bahkan kenangan
tak sudi mengakui
bahwa aku pernah menjadi rumahmu.
Topan Arif
Malang, 12 September 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar