Sabtu, 23 November 2024

Naraya


Hamparan pasir berhambur tersapu silir angin.
Ombak berdesir menghempas tubuh perahu.
Awan biru mulai menghitam di ufuk barat.
Sandhyฤ perlahan sembunyi diantara gelap megha. 

Melihatmu si mata teduh duduk bersimpuh di samping pantai di bawah pohon kelapa.
Rambut bergejolak tersisir angin yang berhembus sepoi.
Menerpa wajah juwita dari sang dayita, menerjang seluruh raga dan rasa.
Senyum tipis di ranum wajahmu terasa berat, mendung murungmu jelas nampak pada lesung pipi. 

Kakimu telanjang menginjak bekas jejak.
Setelah lelah menatap luas lautan lepas.
Berdiri dihamparan pasir yang telah menjadi sendu dalam sesak.
Meninggalkan jejak kesedihan yang merangkulmu dalam bebas. 

Hujan rintik mengguyur air mata yang perlahan mulai sirna.
Masih aku lihat sedikit sisa luka pada kelopak mata kamu yang askara.
Kala kita terhenti, tatapan yang seolah menarik lagi memori tentang kisah yang pernah kita lalui.
Namun halnya detik waktu yang mengukup rindu selalu tentangmu, akankah membawa kita kembali atau meninggalkan lalu pergi. 

Apakah bahagia akan menjadi akhir dari semua episode kisah kita?

Topan Arif
Tulungagung, 22 November 2024

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Upon the Ruins of Mine Own Soul

Di bawah kening malam yang mengafani cakrawala, ia menanak nestapa di tungku tulang rusuknya sendiri; menyantap serpihan diri dengan mulut y...