Dalam hening malam yang menyapa sandarku pada sudut kamar
Aku tatapi langit yang cahaya bintangnya kerlap-kerlip dari balik jendela
Gegau aku tatkala rindu itu runtuh diterpa badai
Hati pilu penuh suram seperti awan yang muncul menutupi bintang
Delusi perlahan berlalu tersapu angin malam
Aku risau jejakmu akan terhapus perlahan oleh rintik hujan
Persepsi dari mimpi seakan pecah seperti debu yang menghambur waktu
Aku hampa dalam diam menyaksisan kita sudah beda arah tujuan
Waktu semakin memburuku merenggut cinta yang menyisakan sedikit luka dihatiku
Risauku terus terangkai dalam acalapati aksara pena
Samar sengap datang kala mentari menyapa asmaraloka
Harsa bahkan tidak peduli lagi dengan cahaya
Kampa sang wijaya kusuma sayup menyusup relung jiwa
Aku pertegas!
Sinarmu bukan milikmu, itu hanya pantulan
Binarmu bukan milikmu, itu hanya pancaran
Senyum itu bukan milikmu, itu hanya bayang-bayang
Sebab bulan bukanlah bintang yang selalu punya cahaya
Sebab bulan bukan juga surya yang selalu terang sinarnya
Bulan hanya teman bagi bumi untuk sehidup semati
Bulan hanya teman bagi bumi untuk tidak sendiri
Tapi bulan, dia tanda cinta abadi yang tak akan berhenti
Topan Arif
Tulungagung, 25 November 2024
Satu hari tanpa tawa adalah hari yang sia-sia. Tetaplah tertawa waulaupun dipenuhi luka dan perasaan kecewa.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Upon the Ruins of Mine Own Soul
Di bawah kening malam yang mengafani cakrawala, ia menanak nestapa di tungku tulang rusuknya sendiri; menyantap serpihan diri dengan mulut y...
-
Setelah kamu pergi... Pertanyaan yang tersisa masih sama... "𝗔𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗯𝗮𝗵𝗮𝗴𝗶𝗮 ?" Namun...
-
Aku kira aku telah usai denganmu, namun diam-diam, langkahku masih hafal arah pulang ke tempat yang selalu menyimpan namamu. Aku hidup ...
-
Aku melihatmu mengambil sebatang keretek. Mengamatinya sambil menekan perlahan tubuh kakunya. Mencari celah lunaknya dimana kenikmatan ter...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar